Indonesia memperkuat kerja sama di bidang industri melalui pendanaan penelitian
Liga335 daftar – Indonesia memperkuat kerja sama dengan industri melalui pendanaan penelitian
Berita terkait: Para rektor universitas menandatangani perjanjian untuk memajukan agenda pembangunan nasional
Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Indonesia secara resmi meluncurkan Program Downstreaming dan Kemitraan 2026, yang memperkenalkan tiga skema pendanaan yang bertujuan mempercepat komersialisasi penelitian universitas guna mengatasi tantangan strategis negara.Berbicara pada peluncuran program di Jakarta pada hari Rabu, pejabat kementerian Yos Sunitiyoso mengatakan bahwa penelitian universitas seharusnya tidak hanya berfokus pada menghasilkan publikasi akademis, tetapi juga pada penyediaan solusi praktis. “Kami berusaha tidak hanya untuk meningkatkan kualitas dan dampak penelitian kami, tetapi juga untuk mengatasi tantangan strategis bangsa,” katanya.
Sunitiyoso menambahkan bahwa kementerian telah mengalokasikan total Rp454 miliar (sekitar US$25 juta) tahun ini untuk mendukung lebih dari 1.070 proyek penelitian terapan yang melibatkan kolaborasi antara universitas perguruan tinggi dan industri. Dari total dana tersebut, Rp317 miliar (sekitar US$17,5 juta) telah dialokasikan melalui program Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) untuk mendukung 924 proyek penelitian, sedangkan Rp136 miliar (sekitar US$7,5 juta) lainnya dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) akan membiayai 146 proyek.
Untuk tahun anggaran 2026, kementerian telah memperkenalkan tiga skema pendanaan unggulan. Yang pertama adalah Program Penyaluran Hasil Penelitian Tahap II Tahun 2026, yang bertujuan menyelaraskan inovasi perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.Program ini berfokus pada lima bidang prioritas, yaitu ketahanan energi melalui efisiensi dan elektrifikasi, pengelolaan limbah, ketahanan kesehatan nasional, swasembada pangan, serta digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).
Skema kedua, “Penelitian Kemitraan Internasional”, dirancang untuk mendukung peneliti Indonesia yang berkolaborasi dengan lembaga penelitian yang diakui secara internasional. Menurut Sunitiyoso, program ini terdiri dari dua bagian Kategori tersebut. Kategori A ditujukan untuk publikasi di jurnal-jurnal bereputasi internasional yang berada di kuartil pertama atau kedua (Q1/Q2), sedangkan Kategori B berfokus pada inovasi terapan dan prototipe yang layak secara komersial.
Inisiatif ketiga, yang diperkenalkan untuk pertama kalinya, adalah Deeptech Hackathon. Dalam skema ini, kementerian akan memberikan hibah hingga Rp1,5 miliar kepada perguruan tinggi untuk menyelenggarakan kompetisi hackathon tingkat nasional.Tujuan dari hackathon ini adalah untuk mengembangkan solusi bagi masalah-masalah di dunia nyata, misalnya melalui kolaborasi dengan Danantara dalam hackathon industri semikonduktor, dengan Kementerian Pertanian dalam bidang ketahanan pangan, atau dalam inisiatif transisi energi,” kata Sunitiyoso.
Melalui ketiga skema pendanaan ini, kementerian berharap penelitian di Indonesia dapat melampaui tahap makalah akademis dan bergerak menuju inkubasi, produksi massal, serta komersialisasi yang lebih luas, yang pada akhirnya akan mengurangi ketergantungan negara ini terhadap produk impor.