WHO memuji kepemimpinan Indonesia dalam upaya One Health untuk mengurangi risiko penyakit zoonosis prioritas
Liga335 daftar – Jakarta, 7 April 2026 – Pada Hari Kesehatan Sedunia, menyoroti kemajuan Indonesia dalam mengurangi risiko kesehatan akibat penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health yang diperkuat. Pendekatan One Health mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait erat dan harus ditangani secara bersamaan.
Dipimpin oleh Pemerintah Indonesia dan didukung oleh WHO serta para mitra, negara ini telah memperluas upaya pencegahan, pengawasan, dan penanggulangan bersama lintas sektor.
“Indonesia menunjukkan bagaimana tindakan terkoordinasi dan multisektoral dapat mengurangi risiko sehari-hari dari penyakit zoonosis,” kata Dr N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia. “Dengan bekerja lintas sektor kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan, Indonesia memperkuat deteksi dini, meningkatkan respons, dan melindungi masyarakat yang menghadapi paparan tertinggi.
”
Penyakit zoonosis adalah infeksi yang dapat menyebar antara hewan dan manusia, seringkali melalui kontak dekat atau lingkungan yang terkontaminasi. Global Faktanya, lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui dan hingga 75 persen penyakit baru berasal dari hewan. Penyakit zoonosis ini memengaruhi lebih dari 2 miliar orang dan merenggut lebih dari 2 juta nyawa setiap tahun.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi risiko zoonosis yang semakin tinggi yang terkait dengan bencana iklim, perubahan lingkungan, serta interaksi yang erat antara manusia, hewan, dan alam.
Upaya One Health Indonesia berfokus pada penyakit zoonosis prioritas seperti flu burung, leptospirosis, antraks, dan rabies. Pada tahun 2025, WHO mendukung uji coba pengawasan terpadu One Health untuk flu burung di lima provinsi prioritas, dengan pasar unggas tradisional berfungsi sebagai lokasi peringatan dini yang kritis.
Untuk leptospirosis, peningkatan pengawasan terpadu, penilaian risiko bersama, deteksi dini, pengobatan segera, dan kesadaran masyarakat telah membantu kolaborasi lintas sektor, memperkuat kesiapan sistem kesehatan, dan mengurangi angka kematian di daerah rawan banjir. Untuk mengurangi dampaknya terkait antraks, WHO mendukung pelatihan tenaga kesehatan garis depan serta pemantauan kejadian akut. Sementara itu, terkait rabies, WHO terus mendukung surveilans, penanganan kasus, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Pengalaman Indonesia mencerminkan meningkatnya perhatian regional dan global terhadap One Health, seiring dengan upaya negara-negara dalam menghadapi dampak kesehatan yang semakin besar akibat perubahan iklim, gangguan lingkungan, dan penyakit-penyakit baru. Tantangan bersama ini menyoroti perlunya kolaborasi berbasis sains yang menghubungkan tindakan lokal dengan solusi regional dan global.
Pemerintah Indonesia terus memimpin dalam memajukan One Health di ASEAN dan di luarnya.
Komitmen ini akan ditekankan pada One Health Summit, yang akan mempertemukan para kepala negara dan menteri untuk mendorong dukungan politik tingkat tinggi dan menerjemahkan komitmen menjadi tindakan terkoordinasi guna melindungi kesehatan bagi semua.
Hal ini diikuti oleh Forum Global Pusat Kolaborasi WHO yang menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dan kemitraan di bidang ilmu pengetahuan dan kedokteran secara keseluruhan. Forum ini merayakan jaringan global WHO yang terdiri dari lebih dari 800 Pusat Kolaborasi, termasuk dua di Indonesia yang berfokus pada keperawatan dan kebidanan serta pencegahan ketulian dan gangguan pendengaran.
Lembaga-lembaga ini melaksanakan penelitian dan kegiatan penting yang berkontribusi pada penemuan ilmiah yang menyelamatkan nyawa, membantu negara-negara mendeteksi wabah penyakit lebih dini, memperkuat sistem laboratorium, meningkatkan keamanan pangan, serta membangun tenaga kesehatan yang lebih siap.