[Topik Hangat SMM] Ledakan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Mendorong Pertumbuhan Permintaan Baja yang Pesat—Analisis Kondisi Terkini Industri Baja Indonesia

[Topik Hangat SMM] Ledakan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Mendorong Pertumbuhan Permintaan Baja yang Pesat—Analisis Kondisi Terkini Industri Baja Indonesia

[Topik Hangat SMM] Ledakan Pembangunan Infrastruktur di Indonesia Mendorong Pertumbuhan Permintaan Baja yang Pesat—Analisis Kondisi Terkini Industri Baja Indonesia

Taruhan bola – Produksi Baja Indonesia Meningkat dari Tahun ke Tahun
Menurut data yang dikumpulkan oleh SMM dari World Steel Association (WSA), Indonesia merupakan salah satu produsen baja utama di Asia Tenggara. Pada tahun 2024, produksi baja mentah Indonesia mencapai 17 juta mt, meningkat 0,9% dari 16,8 juta mt pada tahun 2023, dan menempati peringkat ke-14 secara global.

Sumber: WSA, SMM

Sumber: WSA, SMM
Dulu, produksi baja Indonesia jauh di bawah kebutuhannya, sehingga sebagian besar kebutuhan baja harus dipenuhi melalui impor. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan beroperasinya kapasitas produksi baru, produksi baja Indonesia terus meningkat.
Saat ini, terdapat sekitar 124 perusahaan baja di Indonesia, yang sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa, Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi, dengan mayoritas terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Sebagian besar perusahaan ini merupakan usaha skala kecil. Perusahaan baja terbesar di Indonesia yaitu Krakatau Steel, sebuah badan usaha milik negara dengan kapasitas baja mentah sebesar 5,9 juta mt, yang menyumbang lebih dari separuh kapasitas baja mentah Indonesia.

Sumber: WSA, SMM

Perkembangan Ekonomi yang Pesat di Indonesia Mendorong Pertumbuhan Permintaan Baja yang Signifikan
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan, permintaan baja di berbagai industri terus meningkat. Perkembangan industri seperti infrastruktur, properti, otomotif, elektronik, dan peralatan rumah tangga sangat bergantung pada baja. Misalnya, peningkatan investasi pemerintah dalam pembangunan infrastruktur akan mendorong permintaan baja; pasar properti yang sedang booming membutuhkan baja dalam jumlah besar untuk konstruksi; perkembangan industri otomotif mendorong permintaan baja otomotif; dan pertumbuhan industri elektronik serta peralatan rumah tangga juga membutuhkan baja sebagai bahan baku.

Industri konstruksi merupakan yang terdepan Sektor konstruksi merupakan pendorong utama pertumbuhan permintaan baja di Indonesia, yang menyumbang 78% dari total konsumsi baja di negara ini. Berkat banyaknya proyek infrastruktur yang sedang berjalan di Indonesia serta meningkatnya permintaan perumahan, sektor konstruksi di negara ini menunjukkan kinerja yang baik selama 10 tahun sebelum merebaknya pandemi.

Sumber: WSA, SMM

Pemerintah Indonesia saat ini sangat menekankan pada pembangunan infrastruktur. Sejak tahun 2015, pemerintah telah mengalokasikan sebagian besar anggaran tahunannya untuk proyek-proyek infrastruktur. Sebagai bagian dari “Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024” Indonesia, pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan berbagai proyek infrastruktur transportasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Saat ini, Indonesia memiliki setidaknya 41 proyek prioritas strategis, dengan total dana indikatif sebesar $426 miliar hingga tahun 2024.
Industri otomotif juga menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan baja di Indonesia. Dalam peta jalan revolusi industri “Making Indonesia 4.

0” yang dirumuskan oleh pemerintah Indonesia Bagi pemerintah, industri otomotif ditetapkan sebagai salah satu dari lima sektor manufaktur prioritas. Saat ini, Indonesia telah menjadi pusat manufaktur otomotif terbesar kedua di ASEAN, setelah Thailand. Oleh karena itu, industri otomotif Indonesia memiliki prospek perkembangan yang menjanjikan.

Perkembangan industri otomotif Indonesia terutama didorong oleh investasi asing langsung, khususnya dari Jepang, yang menyumbang 75% dari total investasi asing langsung di sektor otomotif negara ini.

Sumber: Asosiasi Industri Otomotif Indonesia, SMM

Pemerintah Indonesia Secara Aktif Mengembangkan Industri Baja Dalam Negeri untuk Mengurangi Ketergantungan pada Impor

Tabel: Negara-Negara Pengimpor Baja Utama, 2023

Sumber: WSA, SMM

Sumber: OEC, SMM

Produksi baja Indonesia jauh di bawah kebutuhannya, sehingga sebagian besar kebutuhan baja harus dipenuhi melalui impor, menjadikan Indonesia salah satu importir baja terbesar di dunia. Pada tahun 2023, impor baja Indonesia mencapai $1,13 miliar, dengan impor utama dari Sumber-sumber tersebut adalah Tiongkok, Jepang, Oman, Korea Selatan, dan Afrika Selatan.
Untuk mendorong pengembangan industri baja dalam negerinya, pemerintah Indonesia telah menerapkan sistem kuota impor baja.

Sistem ini menetapkan kuota impor tertentu bagi para importir, sehingga hanya sejumlah tertentu baja yang boleh diimpor dalam periode yang telah ditentukan. Kuota tersebut ditentukan berdasarkan permintaan domestik dan rencana pengembangan pemerintah untuk industri baja, serta disesuaikan setiap tahun sesuai dengan kondisi aktual.
Pengajuan kuota impor baja Indonesia melibatkan beberapa langkah, termasuk memperoleh surat rekomendasi dari Kementerian Perindustrian, mengirimkan surat rekomendasi tersebut secara daring ke Kementerian Perdagangan, menyerahkan dokumen-dokumen terkait ke lembaga-lembaga yang ditunjuk, serta membayar biaya inspeksi.

Perlu dicatat bahwa, karena sistem kuota impor baja bertujuan untuk melindungi industri baja dalam negeri, proses pengajuan permohonan mungkin menghadapi pembatasan kebijakan, seperti tarif yang lebih tinggi dan persyaratan yang lebih ketat. peninjauan permohonan izin pelabuhan. Oleh karena itu, perusahaan perdagangan dan konstruksi harus memahami secara mendalam kebijakan dan peraturan terkait di Indonesia sebelum mengajukan permohonan guna memastikan kelancaran proses permohonan.

Sumber: China Trade Relief Information Network, SMM

Tiongkok Merupakan Tujuan Utama Produk Baja Indonesia
Pada tahun 2023, Indonesia menempati peringkat ke-14 di antara produsen baja terbesar di dunia. Meskipun tidak berada di posisi terdepan, peringkat ini menunjukkan kapasitas produksi Indonesia yang signifikan dan terus berkembang. Pada semester pertama 2024, Indonesia menjadi eksportir bersih produk baja setengah jadi, dengan ekspor mencapai 3,076 juta mt, naik 84,3% YoY.

Data ini menyoroti peningkatan signifikan dalam kapasitas produksi baja setengah jadi Indonesia.
Pada semester pertama 2024, ekspor baja jadi Indonesia mencapai 3,044 juta mt, naik 5,4% YoY. Pemerintah Indonesia juga telah secara aktif mendorong industri baja melalui berbagai insentif dan kebijakan promosi investasi, dengan tujuan meningkatkan produksi dalam negeri dan ekspor.

Tabel: Negara-Negara Pengekspor Baja Utama, 2023

Sumber: WSA, SMM
Pada tahun 2023, Indonesia mengekspor baja senilai $2,68 miliar. Tujuan utama ekspor baja Indonesia adalah Tiongkok, Taiwan, Tiongkok, India, Vietnam, dan Malaysia. Pasar dengan pertumbuhan tercepat untuk ekspor baja Indonesia dari tahun 2022 hingga 2023 adalah India, Meksiko, dan Kamerun.

Sumber: OEC, SMM

Tiongkok merupakan pasar terbesar Indonesia sekaligus sumber impor terbesar untuk produk baja Indonesia. Sejak tahun 2018, Tiongkok telah menjadi tujuan ekspor utama produk baja Indonesia dan terus mengalami pertumbuhan. Namun, Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia juga mengingatkan produsen baja Indonesia untuk memantau dengan cermat perkembangan pasar ekspor potensial di luar Tiongkok guna meningkatkan kinerja ekspor, seperti Taiwan, Tiongkok, India, negara-negara ASEAN, dan negara-negara Uni Eropa.

Sumber: China Trade Relief Information Network, SMM

Prospek Penawaran dan Permintaan Baja Indonesia
Di antara negara-negara anggota ASEAN, Indonesia merupakan yang terbesar dalam hal luas wilayah, jumlah penduduk, dan PDB. Secara spesifik, PDB Indonesia menyumbang lebih dari sepertiga dari total PDB ASEAN, dan populasinya mencapai 41% dari total populasi ASEAN. Selain itu, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan populasi 276,36 juta jiwa, menempati peringkat keempat secara global.

Dengan prospek permintaan baja yang optimis yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi hingga tahun 2050, berdasarkan skenario dasar, Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia memperkirakan bahwa konsumsi baja negara ini dapat mencapai 22 juta mt pada tahun 2025 dan 125 juta mt pada tahun 2050. Untuk memenuhi permintaan ini, industri baja Indonesia diperkirakan akan menambah kapasitas produksi sebesar 130 juta mt, yang akan meningkat menjadi 156 juta mt pada tahun 2050, dengan tingkat utilisasi kapasitas dengan tingkat 80%.

Sumber: WSA, SMM

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Indonesia, PDB riil Indonesia tumbuh sebesar 5,03% YoY pada tiga kuartal pertama tahun 2024, melambat sebesar 0,02% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa meskipun menghadapi tantangan dari gejolak geopolitik dan fluktuasi pasar global, perekonomian Indonesia akan tetap tangguh, dengan pertumbuhan PDB yang diperkirakan berkisar antara 4,8% hingga 5,6% pada tahun 2025.

Sumber: Badan Pusat Statistik Indonesia, SMM

Di tengah momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat, sektor konstruksi dan manufaktur negara ini berkembang pesat, memberikan kontribusi signifikan terhadap permintaan baja. Di antaranya, industri konstruksi dan manufaktur otomotif menonjol. Pemerintah Indonesia sangat mementingkan pembangunan infrastruktur, yang membutuhkan baja dalam jumlah besar.

Proyek relokasi modal yang sangat dinantikan di Indonesia diperkirakan dengan biaya sebesar $32,4 miliar, di mana tahap pertama saja membutuhkan 500.000–700.000 mt baja.

Ibu kota baru, Nusantara, akan dibangun sejauh 800 mil dari Jakarta dan akan menjadi proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah negara ini. Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia menyatakan bahwa pembangunan kota tersebut akan membutuhkan 9,5 juta mt baja. Ia memperkirakan bahwa tahap pertama proyek ini akan menggunakan 500.

000 hingga 700.000 mt baja, dengan tambahan 1 juta mt yang dibutuhkan untuk setiap tahap berikutnya. Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memastikan pasokan baja dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk pembangunan ibu kota baru tersebut.

Sektor manufaktur Indonesia juga diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat. Dengan membuka potensi pasar domestik, memanfaatkan keunggulan sumber daya alam untuk mengembangkan industri kendaraan listrik (EV), serta meningkatkan orientasi ekspor, industri otomotif Indonesia akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan permintaan baja. Akibatnya, Indonesia diprediksi akan menjadi negara berkembang di kawasan ASEAN yang mendorong pertumbuhan permintaan baja di kawasan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *