Indonesia menekankan reformasi pertanian di forum WTO.
Liga335 – Indonesia menekankan reformasi pertanian di forum WTO Berita terkait: Indonesia mendesak adanya kemauan politik yang kuat untuk reformasi WTO
Jakarta (ANTARA) – Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan negara ini akan mendorong penguatan pembahasan reformasi pertanian menjelang Konferensi Menteri WTO ke-14, yang dijadwalkan berlangsung pada 26–29 Maret 2026 di Kamerun. Budi mengatakan Konferensi Menteri ke-14 harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali negosiasi pertanian WTO yang telah mandek dalam beberapa tahun terakhir. “Indonesia menekankan bahwa Konferensi Tingkat Menteri WTO ke-14 harus digunakan untuk menghidupkan kembali negosiasi pertanian yang telah terhenti dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai koordinator G-33, Indonesia mendesak agar reformasi pertanian WTO tetap berorientasi pada pembangunan,” kata Budi dalam pernyataan yang diterbitkan di Jakarta pada Selasa.Dia menambahkan bahwa beberapa aspek – termasuk keamanan pangan, kesejahteraan petani kecil, dan prioritas pembangunan nasional – harus menjadi prioritas. Elemen-elemen y dalam menentukan arah reformasi.
Pertemuan Menteri G-33 kali ini mengusung tema “Prioritas G-33 dan Tindakan Kolektif menuju MC-14 untuk Memajukan Negosiasi Pertanian WTO yang Inklusif.” Salah satu agenda utama pertemuan ini adalah penyelarasan Pernyataan Bersama Menteri oleh anggota G-33 yang akan disampaikan pada Konferensi Menteri WTO ke-14, katanya.Dalam pernyataan bersama tersebut, menurut Budi, menteri-menteri G-33 akan menegaskan kembali komitmen mereka untuk memperkuat sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan, adil, inklusif, dan transparan dengan WTO sebagai intinya.
Indonesia akan terus mengadvokasi pendekatan yang tegas namun konstruktif untuk memastikan kepentingan negara-negara berkembang tetap menjadi bagian dari agenda reformasi pertanian WTO.Hal ini termasuk isu Penimbunan Publik untuk Tujuan Keamanan Pangan (PSH) untuk melindungi keamanan pangan, Mekanisme Perlindungan Khusus (SSM) sebagai alat untuk menangani lonjakan impor, dan ketentuan Perlakuan Khusus dan Berbeda (S&DT). Dia mengatakan bahwa Indonesia, bersama dengan anggota G-33 lainnya, akan memperkuat koordinasi untuk memastikan isu-isu prioritas negara berkembang tetap menjadi fokus dalam pembahasan reformasi pertanian WTO menjelang Konferensi Menteri ke-14.
“Kepemimpinan aktif Indonesia dalam forum ini mencerminkan komitmen negara untuk mendorong sistem perdagangan multilateral yang lebih inklusif dan responsif yang mendukung prioritas pembangunan, terutama keamanan pangan dan kesejahteraan petani kecil,” kata Budi.