Indonesia memperketat karantina setelah wabah PPR mematikan di Vietnam.
Liga335 daftar – Indonesia memperketat karantina setelah wabah mematikan PPR di Vietnam Berita terkait: Indonesia menyoroti pendekatan One Health di Konferensi WOAH ke-34 Berita terkait: Kementerian menangani Penyakit Mulut dan Kuku melalui vaksinasi massal
Jakarta (ANTARA) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) sedang menyusun strategi untuk mencegah masuknya penyakit Peste des Petits Ruminants (PPR) ke Indonesia setelah wabah di Vietnam sejak November 2025. PPR adalah penyakit hewan yang terdaftar dalam karantina dengan potensi dampak serius terhadap ternak, terutama hewan ruminansia kecil seperti kambing dan domba, karena sifatnya yang sangat menular dan tingkat kematian yang tinggi pada hewan yang rentan.“Indonesia mengimpor kambing dan domba dari Australia, negara yang bebas dari PPR,” kata Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean dalam pernyataan pada Kamis.
Ia menjelaskan bahwa pada 2025, Barantin mencatat impor 1.196 ekor kambing dan domba dari Australia melalui delapan pengiriman. Sementara itu, Panggabean mencatat bahwa PPR telah dikonfirmasi di Vietnam.
Pada tanggal 26 November 2025, Indonesia melaporkan kasus PPR pertama di Asia Tenggara pada tahun 2021. PPR juga telah terdeteksi di beberapa negara Asia, termasuk China, India, dan Mongolia. Hingga saat ini, Indonesia belum melaporkan kasus PPR, tambahnya.
Menurut Panggabean, Barantin telah melarang impor kambing dan domba dari negara-negara yang mengalami wabah PPR, termasuk Vietnam dan Thailand, serta negara-negara lain dengan status penyakit yang dikonfirmasi atau terpengaruh.“Unit kerja Barantin di seluruh Indonesia terus memperketat pengawasan pergerakan hewan dan produk hewan, baik impor dari luar negeri maupun lalu lintas antarwilayah di dalam negeri,” katanya.Lembaga tersebut juga memperkuat langkah-langkah karantina di titik masuk dan keluar, termasuk verifikasi dokumen dan pemeriksaan kesehatan hewan.
Selain itu, pemantauan lalu lintas ternak telah ditingkatkan, termasuk pemantauan ternak kecil di daerah berisiko tinggi sebagai langkah deteksi dini. Barantin sedang meningkatkan kapasitas diagnostiknya untuk PP Deteksi PPR melalui peningkatan metode pengujian dan penguatan koordinasi dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan di sektor peternakan. Pihak berwenang juga melaksanakan program pendidikan dan penyuluhan bagi petani, usaha peternakan, dan masyarakat umum untuk meningkatkan kesadaran akan gejala PPR dan mendorong pelaporan dini.
Panggabean menjelaskan bahwa PPR tidak memiliki vektor dan tidak ditularkan secara mekanis, dengan penularan terjadi terutama melalui aerosol dan kontak langsung dengan hewan terinfeksi.Konfirmasi kasus PPR memerlukan pengujian laboratorium, termasuk RT-PCR untuk deteksi gen virus, isolasi dan identifikasi virus menggunakan kultur sel, serta pengujian serologis AGID. Ia berharap kewaspadaan kolektif dan kepatuhan terhadap peraturan karantina dapat meminimalkan risiko masuknya PPR dan penyebarannya di Indonesia, sehingga menjaga kesehatan hewan dan keamanan pangan nasional.