Apa yang Dapat Dipelajari India dari Model Kesejahteraan ‘Tanpa Pinjaman’ Indonesia

Apa yang Dapat Dipelajari India dari Model Kesejahteraan 'Tanpa Pinjaman' Indonesia

Apa yang Dapat Dipelajari India dari Model Kesejahteraan 'Tanpa Pinjaman' Indonesia

Slot online terpercaya – Acara Langsung
sebagai Sumber Berita yang Andal dan Terpercaya Tambahkan sebagai Sumber Berita yang Andal dan Terpercaya Tambahkan Sekarang!

(Anda kini dapat berlangganan

(Anda kini dapat berlangganan saluran WhatsApp Economic Times
Seiring India semakin mendekati tujuannya untuk menjadi ekonomi senilai $7 triliun pada tahun 2030, tantangan sesungguhnya bukan lagi sekadar pertumbuhan, melainkan bagaimana pertumbuhan tersebut didanai dan dibagikan. Memperluas kesejahteraan tanpa membebani keuangan pemerintah telah menjadi dilema kebijakan utama. Pengalaman Indonesia baru-baru ini memberikan pelajaran yang tajam dan tepat waktu bagi India: program-program sosial berskala besar tidak harus dibangun di atas utang yang terus meningkat.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia meluncurkan program realokasi fiskal pada tahun 2025 yang mendanai pengeluaran kesejahteraan dan pembangunan tanpa menambah pinjaman. Alih-alih menaikkan pajak atau memperlebar defisit fiskal, pemerintah berfokus pada pengurangan pemborosan, penegakan kepatuhan, dan pemulihan pendapatan yang hilang. Hasilnya adalah ruang fiskal sebesar hampir $30 miliar, yang diciptakan dalam batas anggaran yang ada.

Bagi I Bagi India, yang sedang mengupayakan perluasan kesejahteraan bersamaan dengan konsolidasi fiskal, pendekatan ini menawarkan pelajaran penting. Reformasi di Indonesia dimulai dengan menelaah secara cermat bagaimana uang publik digunakan. Pemerintah secara drastis mengurangi pengeluaran yang tidak esensial, memangkas pemborosan dalam pengadaan, mengurangi biaya seremonial dan administratif, serta membatasi pengeluaran yang berdampak rendah.

Menurut Dr. Prabhakar Patil, mantan Kepala Manajer Umum di Sebi dan pemegang gelar doktor di bidang ekonomi dari IIT Mumbai, perubahan pola pikir ini sangat penting. “Sebagian besar pemerintah memandang kesejahteraan melalui kacamata pengeluaran tambahan.

Indonesia menunjukkan bahwa langkah pertama adalah menanyakan di mana uang bocor dan seberapa efisien anggaran yang ada digunakan,” katanya.Indonesia dilaporkan berhasil memangkas pemborosan dalam pengadaan hingga 90 persen, mengurangi biaya pencetakan dan upacara hingga tiga perempat, serta memangkas biaya sewa gedung. Yang penting, penghematan ini tidak dilakukan dengan mengorbankan layanan publik yang esensial.

India pun telah lama berjuang dengan ketidakefisienan dalam pengadaan, tumpang tindihnya skema, dan biaya administrasi. Para ahli mengatakan bahwa perbaikan sekecil apa pun di bidang-bidang ini dapat membuka ruang fiskal yang signifikan. Selain penghematan biaya, Indonesia sangat fokus pada penegakan hukum.

Aktivitas ekonomi ilegal, yang sering dianggap sebagai masalah ketertiban umum, ditangani sebagai masalah fiskal.Lahan perkebunan kelapa sawit ilegal yang luas dibawa ke bawah kendali negara dan dikenakan pajak secara resmi. Operasi pertambangan ilegal ditutup atau disahkan.

Penyelundupan dikendalikan, denda dijatuhkan, dan aset disita dalam kasus-kasus korupsi. Langkah-langkah ini mengubah aktivitas informal dan ilegal menjadi aliran pendapatan yang dapat dikenakan pajak.Dr.

Siva Reddy Kalluru, Dosen dan Wakil Dekan di Gokhale Institute of Politics and Economics, mengatakan bahwa pendekatan ini memiliki relevansi yang jelas bagi India. “India memiliki ekonomi informal dan semi-formal yang besar. Penegakan hukum yang kuat bukan hanya soal kepatuhan—tetapi juga soal memulihkan keadilan dan memperluas basis pajak tanpa menaikkan tarif,” h katanya.

Ia menambahkan bahwa memperlakukan penegakan hukum sebagai alat fiskal membantu pemerintah menghindari pilihan-pilihan yang sensitif secara politik, seperti memangkas tunjangan kesejahteraan atau menaikkan pajak. Ruang fiskal yang tercipta melalui penghematan dan penegakan hukum dialihkan ke program-program sosial berskala besar. Indonesia memperluas ketahanan pangan, akses layanan kesehatan, infrastruktur sekolah, dan koperasi pedesaan, sambil menjaga defisit fiskal tetap dalam batas yang diizinkan undang-undang dan utang publik tetap stabil.

Hal ini secara langsung menantang asumsi bahwa perluasan kesejahteraan pasti akan menyebabkan utang yang lebih tinggi. “Pengalaman Indonesia mematahkan mitos bahwa program-program kesejahteraan harus didanai melalui pinjaman,” kata Dr Patil. “Hal ini membuktikan bahwa realokasi yang disiplin dapat memberikan hasil sosial sekaligus melindungi stabilitas makroekonomi.

” Arsitektur kesejahteraan India sendiri, mulai dari bantuan pangan hingga layanan kesehatan dan perumahan, sudah menghabiskan porsi yang signifikan dari belanja publik. Model Indonesia menunjukkan bahwa fokus kini harus beralih ke kualitas pendanaan dan penyaluran, rat daripada alokasi anggaran yang menjadi sorotan utama. India menghadapi tantangan struktural yang serupa dengan Indonesia: kebocoran dalam pengeluaran publik, pertambangan ilegal, aset negara yang kurang dimanfaatkan, serta kelemahan dalam penegakan hukum.

Menangani masalah-masalah ini dapat mengurangi tekanan pada anggaran sekaligus mendukung pertumbuhan inklusif. Dr. Kalluru berpendapat bahwa pelajaran yang lebih penting terletak pada niat politik.

“Reformasi fiskal bukan hanya soal angka. Hal ini membutuhkan kemauan untuk menghadapi kepentingan-kepentingan yang sudah mapan dan merancang ulang cara negara membelanjakan uang,” katanya. Saat India bergerak menuju visi ‘Viksit Bharat’, contoh Indonesia menunjukkan bahwa kesejahteraan dan disiplin fiskal tidak harus menjadi tujuan yang saling bertentangan.

Dengan membelanjakan dana secara lebih cerdas, menegakkan aturan dengan lebih baik, dan mengalokasikan kembali sumber daya yang ada, pemerintah dapat mendanai prioritas sosial tanpa membebankan beban tersebut kepada generasi mendatang. Bagi para pembuat kebijakan di New Delhi, model kesejahteraan tanpa pinjaman dari Indonesia bukanlah sekadar cetak biru, melainkan sebuah pengingat: pertumbuhan akan paling kuat ketika uang publik dimanfaatkan secara lebih efisien, bukan ketika pemerintah sekadar membelanjakan. dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *