Indonesia Menjelaskan Alasan Penandatanganan Perjanjian Perdagangan dengan AS

Indonesia Menjelaskan Alasan Penandatanganan Perjanjian Perdagangan dengan AS

Indonesia Menjelaskan Alasan Penandatanganan Perjanjian Perdagangan dengan AS

Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia telah memaparkan latar belakang dan perkembangan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang bermula dari penerapan tarif timbal balik secara sepihak oleh pemerintah AS terhadap beberapa negara pada 2 April 2025.
“Indonesia termasuk di dalamnya dan dikenakan tarif sebesar 32 persen,” kata Haryo Limanseto, juru bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam pernyataan tertulis pada Minggu, 22 Februari 2026.

Ia menjelaskan bahwa AS mendasarkan kebijakan tersebut pada defisit perdagangan Indonesia, yang mencapai US$19,3 miliar pada tahun 2024.
Mengapa Indonesia Memilih Jalur Negosiasi?
Haryo menambahkan bahwa pemerintah Indonesia memandang negosiasi sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga daya saing produk ekspor negara, sekaligus melindungi mata pencaharian sekitar 4–5 juta pekerja yang bekerja di industri padat karya yang terdampak tarif tersebut.

Pemerintah memilih jalur diplomasi daripada tindakan balasan . dengan mencatat bahwa langkah-langkah balasan berpotensi menimbulkan dampak yang lebih merugikan bagi perekonomian nasional.
Negosiasi intensif dengan AS pun berlangsung, yang berujung pada penurunan tarif timbal balik dari 32 persen menjadi 19 persen, sebagaimana diumumkan pada 15 Juli 2025.

Kerangka kerja tersebut diresmikan dalam sebuah Pernyataan Bersama, di mana kedua negara sepakat untuk membahas dan menyelesaikan ART.
Kapan ART Ditandatangani dan Apa Saja yang Tercakup di dalamnya?
Pada 19 Februari 2026, Presiden Indonesia dan Amerika Serikat secara resmi menandatangani ART.

Perjanjian tersebut menetapkan tarif timbal balik dan memberikan pengecualian bagi produk-produk Indonesia tertentu, termasuk minyak kelapa sawit, kakao, kopi, karet, dan tekstil, sehingga memudahkan akses produk-produk tersebut ke pasar AS.
Kapan Perjanjian Ini Akan Berlaku?
Haryo mencatat bahwa perjanjian ini akan berlaku 90 hari setelah kedua negara memberikan konfirmasi tertulis bahwa semua prosedur hukum, termasuk konsultasi dengan lembaga terkait dan ratifikasi, telah diselesaikan.

Dia juga menekankan disebutkan bahwa ART dapat ditinjau ulang atau diubah kapan saja, dengan syarat adanya permohonan tertulis dan persetujuan bersama.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk menaikkan tarif global barunya menjadi 15 persen, sehari setelah memberlakukan tarif 10 persen atas impor dari semua negara menyusul putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan ekonominya sebelumnya.
Terlepas dari keputusan Mahkamah Agung tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perjanjian perdagangan bilateral dengan Indonesia tetap berlaku sesuai dengan mekanisme yang ada.

Ia menjelaskan bahwa putusan pengadilan tersebut hanya berkaitan dengan tarif global dan penggantian biaya kepada perusahaan-perusahaan tertentu, serta tidak memengaruhi ketentuan-ketentuan dalam ART.
Ervana Trikarina Putri turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *