Mengapa perubahan iklim dan perencanaan kota yang buruk membuat Indonesia memindahkan ibukotanya dari Jakarta
Taruhan bola – Rumah Winda di kota Jakarta, Indonesia, tenggelam 20 cm (8 inci) setiap tahun. Ia telah membeli empat truk muatan batu, kerikil, dan semen untuk memperkuat fondasi rumahnya. Langkah itu mencegah kenaikan permukaan laut mencapai ambang pintunya, namun ada efek samping yang tidak diinginkan.
“Langit-langit semakin mendekat setiap kali kami menambahkan lapisan,” serunya. Kini langit-langit itu sudah berada dalam jangkauan tangan—hanya 50 cm (20 inci) di atas kepalanya. Kisah Jakarta ini menjadi peringatan bagi para perencana kota.
Rentan terhadap perubahan iklim—Laut Jawa sedang naik—tetapi juga tenggelam, secara harfiah, di bawah beban tata kelola yang buruk dan serangkaian keputusan yang keliru. Sebuah masjid yang terbengkalai di Jakarta. Bagi Winda, ini berarti harus terus menimbun fondasinya.
“Ke mana lagi kita bisa pergi? Kita tidak punya pilihan untuk pindah,” katanya. Namun, pemerintah Indonesia memiliki pilihan itu—dan sedang melakukannya.
Pemerintah telah mengumumkan akan memindahkan pusat administrasinya sejauh sekitar 2.000 km (1.242 mil) ke sebuah lokasi di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, di Pulau Kalimantan.
Proyek senilai US$34 miliar ini dirancang sebagai kota pesisir yang kompak dengan lima kota satelit, dibangun di atas lahan perkebunan kelapa sawit yang telah direhabilitasi dan dikelilingi oleh lahan basah serta hutan tropis. Targetnya adalah menyelesaikan tahap awal pembangunan pada tahun 2025. Pemilihan lokasi ini masuk akal secara politik dan ekonomi — Kalimantan jauh lebih dekat ke pusat kepulauan Indonesia yang luas.
Namun, pulau ini juga menjadi rumah bagi beberapa hutan terpenting di dunia, serta dipenuhi satwa liar. Ini adalah salah satu tempat dengan keanekaragaman hayati tertinggi di planet ini. Pemerintah Indonesia berjanji bahwa kota ini akan menjadi kota berkelanjutan yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia, dan bahkan mungkin di dunia.
Namun, para aktivis lingkungan khawatir bahwa rencana ambisius ini dapat menimbulkan dampak yang bencana. Tim arsitek yang memenangkan kompetisi yang diselenggarakan pemerintah untuk merancang ibu kota tersebut—Urban+ Architects, yang berbasis di Jakarta—mengatakan bahwa tujuannya adalah bekerja sama dengan alam, bukan melawan alam.