Indonesia mempersiapkan hingga 8.000 personel militer untuk kemungkinan penugasan di Gaza
Liga335 – TNI mengumumkan pada hari Minggu bahwa hingga 8.000 personel militer dapat siap pada akhir Juni untuk kemungkinan penugasan ke Gaza sebagai bagian dari misi kemanusiaan dan perdamaian yang terkait dengan kerangka kerja rekonstruksi pascaperang Presiden AS Donald Trump.
TNI telah menyelesaikan usulan struktur pasukan dan jadwal penugasan, meskipun pemerintah belum mengambil keputusan politik mengenai kapan — atau apakah — pasukan tersebut akan dikirim.
“Pada prinsipnya, kami siap ditugaskan ke mana saja,” kata Juru Bicara TNI Angkatan Darat Brigjen Donny Pramono kepada The Associated Press.
“Pasukan kami telah sepenuhnya siap dan dapat dikerahkan dalam waktu singkat begitu pemerintah memberikan persetujuan resmi.”
Menurut Pramono, militer telah menyiapkan brigade gabungan beranggotakan 8.
000 personel setelah rapat perencanaan misi pada 12 Februari.
Pasukan sedang menjalani pemeriksaan kesehatan dan persiapan administratif sepanjang Februari, diikuti dengan tinjauan kesiapan pada akhir bulan.
Sekitar 1 Sekitar 1.
000 personel diperkirakan akan siap sebagai tim pendahulu pada bulan April, sedangkan pasukan sisanya akan siap pada bulan Juni.
Namun, Pramono menekankan bahwa kesiapan operasional tidak secara otomatis berarti penempatan pasukan akan dilakukan. Misi tersebut masih memerlukan keputusan politik dan bergantung pada mekanisme internasional.
Kementerian Luar Negeri Indonesia telah berulang kali menekankan bahwa keterlibatan apa pun di Gaza akan bersifat murni kemanusiaan. Para pejabat mengatakan bahwa peran Indonesia akan berfokus pada perlindungan warga sipil, layanan medis, dan upaya rekonstruksi, serta bahwa pasukannya tidak akan terlibat dalam pertempuran atau konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata.
Jika disetujui, Indonesia akan menjadi negara pertama yang secara resmi mengerahkan pasukan untuk misi keamanan yang dibentuk di bawah inisiatif Dewan Perdamaian Trump untuk Gaza.
Misi ini diluncurkan di tengah gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung sejak 11 Oktober, setelah dua tahun konflik.
Indonesia, negara dengan populasi mayoritas Muslim terbesar di dunia, tidak memiliki hubungan diplomatik formal Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan telah lama mendukung solusi dua negara. Negara ini aktif dalam upaya kemanusiaan untuk Gaza, termasuk mendanai sebuah rumah sakit.
Para pejabat Indonesia menyatakan bahwa bergabung dengan Dewan Perdamaian bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan Palestina dari dalam inisiatif tersebut, dengan mencatat bahwa Israel diwakili dalam dewan tersebut sementara Palestina tidak.
Indonesia termasuk di antara 10 kontributor terbesar bagi misi penjaga perdamaian PBB dan memiliki pengalaman operasional sebelumnya, termasuk penugasan di Lebanon.