Boom pusat data di Indonesia memicu kekhawatiran terkait penggunaan air
Taruhan bola – 8 April 2026 JAKARTA – Meningkatnya permintaan akan pusat data di tengah demam kecerdasan buatan (AI) global telah secara signifikan meningkatkan kebutuhan air untuk mengoperasikan sistem-sistem tersebut, sehingga menimbulkan risiko kelangkaan yang memaksa para pelaku industri untuk menggunakan sumber daya yang tersedia secara efisien. “Ke depan, air akan menjadi isu strategis kedua setelah energi dalam pengembangan pusat data,” kata Ketua Organisasi Penyedia Pusat Data Indonesia (IDPRO) Hendra Suryakusuma. Ia mengatakan kepada The Jakarta Post pada 30 Maret bahwa konsumsi air di pusat data bergantung pada teknologi pendinginan yang digunakan.
Sistem pendingin udara (air-cooled chiller) mengonsumsi air sangat sedikit. Sementara itu, sistem pendingin air, seperti menara pendingin atau sistem pendingin evaporatif, umumnya mengonsumsi air dalam jumlah yang signifikan. Mengutip tolok ukur global, ia mencatat bahwa pusat data hyperscale dapat menggunakan 1 juta hingga 5 juta liter air per hari, terutama untuk sistem pendingin evaporatif.
Di Indonesia, sebagian besar pusat data yang lebih tua menggunakan sistem pendingin udara (chiller). Menara pendingin yang menggunakan air, sehingga menyebabkan konsumsi air yang relatif tinggi. Sementara itu, pusat data generasi baru seperti pusat data hyperscale dan pusat kolokasi modern mulai mengadopsi chiller berpendingin udara dengan economizer, yang membantu mengurangi ketergantungan pada air, katanya.
Pembangunan pusat data di negara ini terkonsentrasi di sekitar wilayah Jabodetabek, sebuah kawasan yang juga menghadapi masalah kekurangan air, serta di Batam, Kepulauan Riau. Penelitian bersama yang dilakukan oleh lembaga think tank yang berafiliasi dengan The Post, Tenggara Strategics, dan lembaga-lembaga lain mengungkapkan bahwa, di luar risiko guncangan akut, baik Jakarta maupun Batam menghadapi inefisiensi iklim kronis. Terletak di lingkungan dataran rendah yang panas dan lembap, pusat data di lokasi-lokasi ini harus bergantung pada sistem pendingin mekanis yang boros energi dan beroperasi dengan beban tinggi sepanjang tahun.
“Ketergantungan struktural ini mengakibatkan rasio efektivitas penggunaan daya [PUE] yang lebih tinggi, konsumsi air yang meningkat, dan jejak karbon operasional yang lebih besar “s,” demikian bunyi laporan tersebut. Hendra dari IDPRO mengakui bahwa menjamin pasokan air telah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri pusat data. Pasokan air yang terbatas dari perusahaan pengolahan air setempat (PDAM) telah menyebabkan kurangnya pasokan yang stabil di banyak kawasan industri.
Selain itu, ketergantungan Jakarta pada air tanah menimbulkan risiko penurunan tanah. Ada pula tantangan terkait persaingan atas sumber daya air dengan sektor lain serta kebutuhan untuk menjaga kualitas air, yang memerlukan pengolahan tambahan. Tantangan-tantangan ini telah mendorong beberapa operator di industri ini untuk menghindari penggunaan menara pendingin berskala besar dan sebaliknya mulai merancang sistem dengan ketergantungan air yang minimal.
Operator juga mengincar lokasi di luar Jakarta, dengan mempertimbangkan pasokan air dan infrastruktur utilitas pendukung. Untuk membuat penggunaan air lebih efisien, Hendra menunjuk beberapa praktik terbaik global, seperti menggunakan chiller pendingin udara dan economizer udara tidak langsung atau langsung yang menawarkan konsumsi energi rendah, bahkan mendekati nol o penggunaan air. Pusat data juga dapat menerapkan sistem pendinginan cair dan imersi, yang efektif untuk beban kerja AI dengan kepadatan tinggi.
Strategi lain untuk menghemat air lebih banyak meliputi penerapan praktik daur ulang dan pemanfaatan kembali air, serta mengeksplorasi sumber air alternatif, seperti penampungan air hujan dan air daur ulang. Hotmauli Sidabalok, peneliti di Yayasan Amerta Air Indonesia, menekankan perlunya memperkuat tata kelola penggunaan air dan peraturan perizinan, memastikan pusat data dibangun di lokasi yang sesuai, mengadopsi sistem pendinginan yang efisien, dan pengelolaan air yang tepat. “Situasi ini dapat menyebabkan ketidakadilan lingkungan.
Kebutuhan manusia, dengan air sebagai kebutuhan dasar, bersaing dengan tuntutan pusat data. Belum lagi implikasi yang lebih luas terhadap ketidaksetaraan ekosistem. Hal ini menjadi semakin mengkhawatirkan dalam konteks perubahan iklim, yang sudah berkontribusi pada meningkatnya kelangkaan air,” katanya kepada The Post pada 30 Maret.
Meskipun konsumsi air telah menjadi. Meskipun ini merupakan isu yang sedang berkembang di industri pusat data, data yang dapat diandalkan mengenai penggunaan air oleh pusat data di Indonesia masih terbatas. Ayom Mratita Purbandani, peneliti di Pusat Masyarakat Digital (CfDS) Universitas Gadjah Mada (UGM), mengatakan bahwa banyak perusahaan menganggap data konsumsi air sebagai “informasi rahasia” dan enggan untuk mengungkapkannya.
Kurangnya transparansi ini telah menghambat masyarakat dan regulator dalam menilai dampak pusat data terhadap pasokan air secara efektif. Pusat data harus diwajibkan untuk melaporkan efektivitas penggunaan air (WUE) mereka secara rutin dan terbuka kepada pemerintah maupun masyarakat, desaknya, sambil menambahkan bahwa izin pendirian pusat data juga harus diperketat dan mempertimbangkan kapasitas lingkungan di sekitarnya, terutama dampaknya terhadap sumber daya air. Sementara itu, pemerintah dapat memperkenalkan insentif di sektor ini, seperti insentif bagi penggunaan teknologi hemat air atau air daur ulang.
Ayom menambahkan bahwa penerapan perjanjian manfaat masyarakat (CB A), yang berfungsi sebagai perjanjian yang mengikat secara hukum antara pengembang proyek dan kelompok masyarakat atau pemerintah daerah, merupakan alat penting untuk mencegah ketimpangan sosial mengingat masyarakat setempat sering kali terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan pusat data.