Laporan Keuangan Kesehatan Indonesia 2024: Memperkuat landasan empiris untuk pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan
Liga335 daftar – Memperluas cakupan kesehatan universal (UHC) tidak hanya membutuhkan peningkatan belanja kesehatan; hal ini juga bergantung pada data yang andal dan terkini mengenai bagaimana sumber daya kesehatan dimobilisasi, dialokasikan, dan digunakan di seluruh sistem kesehatan. Akuntansi Kesehatan Nasional (NHA) adalah catatan statistik terstandarisasi yang secara sistematis melacak bagaimana dana kesehatan dihimpun, digabungkan, dan dibelanjakan dalam sistem kesehatan suatu negara. NHA menyediakan perkiraan pengeluaran kesehatan agregat yang mendukung analisis kebijakan, perencanaan, dan pemantauan kemajuan menuju UHC, termasuk perlindungan finansial dan penyediaan layanan.
Indonesia mengumpulkan dan menganalisis data untuk NHA-nya sebagai bagian dari proses statistik rutin untuk menghasilkan perkiraan tersebut, menggunakan Sistem Akuntansi Kesehatan (SHA) 2011 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang komprehensif dan terstandarisasi secara internasional. Pada 17 Desember 2025, Pusat Pembiayaan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebarluaskan hasil akuntansi kesehatan tahun 2024. Pemerintah pusat dan daerah, serta masyarakat Badan asuransi, lembaga akademis, dan mitra pembangunan turut terlibat dalam membahas temuan serta implikasi kebijakannya.
Laporan Akuntansi Kesehatan 2024 menunjukkan bahwa total pengeluaran kesehatan mencapai Rp 639,9 triliun (2,9% dari PDB) atau sekitar Rp 2,3 juta per orang. Selama dekade terakhir, pengeluaran kesehatan di Indonesia hampir dua kali lipat, didorong terutama oleh meningkatnya pemanfaatan skema jaminan kesehatan nasional (JKN). Pembiayaan publik tetap menjadi tulang punggung sistem kesehatan Indonesia, menyumbang 58,5% dari total pengeluaran.
Pengeluaran langsung (out-of-pocket) turun menjadi 28,3%, menandakan perbaikan bertahap dalam perlindungan finansial. Namun, temuan tersebut juga memperingatkan bahwa kemajuan menuju Cakupan Kesehatan Universal (UHC) akan terus bergantung pada pembiayaan publik yang berkelanjutan dan efisiensi yang lebih besar, terutama melalui pelayanan kesehatan primer yang lebih kuat dan pengendalian biaya yang lebih ketat.
Lembaga ini telah lama mendukung Indonesia dalam penyusunan, penginstitusionalisasian, dan pemanfaatan Laporan Kesehatan Nasional (NHA), serta analisis yang lebih rinci mengenai pengeluaran farmasi (PE) serta akun pengeluaran khusus penyakit (DIS).
Dukungan ini telah membantu memastikan konsistensi metodologis, keterbandingan dengan data negara lain, serta keterkaitan yang lebih erat antara pola pengeluaran dan prioritas nasional di bidang kesehatan. Akibatnya, Indonesia juga secara konsisten melaporkan data pengeluaran kesehatan yang telah divalidasi (dengan jeda dua tahun) ke Basis Data Pengeluaran Kesehatan Global WHO, sehingga memperkuat pemantauan global dan pembelajaran antarnegara.
“Penyusunan NHA merupakan proses yang kompleks yang memerlukan masukan dari banyak pemangku kepentingan, dan kami mengharapkan interoperabilitas data yang lebih kuat antar kementerian dan lembaga sehingga data ini dapat dimanfaatkan dengan lebih baik di tahun-tahun mendatang,” kata Ahmad Irsan Moeis, Direktur Pusat Pembiayaan Kesehatan, Kementerian Kesehatan.
Institusionalisasi akun kesehatan memastikan bahwa data pengeluaran kesehatan diproduksi secara rutin dan menjadi landasan yang dapat diandalkan untuk perencanaan, penganggaran, dan dialog kebijakan. Akun NHA, PE, dan DIS yang diinstitusionalisasi akan menjadi dasar bagi pembiayaan kesehatan melakukan reformasi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi risiko kesulitan keuangan seiring dengan upaya negara ini untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta (UHC).
Pada periode dua tahunan 2026–2027, WHO akan terus mendukung Kementerian Kesehatan dalam memperkuat pelembagaan dan pemanfaatan kebijakan terkait laporan keuangan kesehatan.
Pendekatan ini akan lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Dukungan akan difokuskan pada pengintegrasian penggunaan data pengeluaran untuk mendukung perlindungan finansial, penetapan prioritas, dan reformasi penyediaan layanan. Sementara itu, kapasitas analitis dan interoperabilitas data di tingkat nasional dan subnasional akan diperkuat.
Kolaborasi berkelanjutan ini bertujuan untuk memastikan bahwa bukti pengeluaran kesehatan dihasilkan secara rutin, dipahami dengan baik, dan digunakan secara efektif guna mendukung kemajuan yang adil dan berkelanjutan menuju UHC.